1
PESTISIDA, LINGKUNGAN DAN KESEHATANby Mitra Agroon.PESTISIDA, LINGKUNGAN DAN KESEHATANDalam proses intensifikasi budidaya pertanian sekarang ini sudah mulai menuai berbagai kendala teknis serta sosial-ekonomi. Masalah OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) yaitu hama, penyakit dan gulma yang banyak mengakibatkan ketidakmantapan dan penurunan produksi sampai saat ini belum mendapatkan solusi yang memuaskan. Kehilangan hasil panen akibat OPT ini diperkirakan mencapai 40 – 55 %, bahkan bisa mengakibatkan […]

Pestisida, Lingkungan dan Kesehatan

Dalam proses intensifikasi budidaya pertanian sekarang ini sudah mulai menuai berbagai kendala teknis serta sosial-ekonomi. Masalah OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) yaitu hama, penyakit dan gulma yang banyak mengakibatkan ketidakmantapan dan penurunan produksi sampai saat ini belum mendapatkan solusi yang memuaskan. Kehilangan hasil panen akibat OPT ini diperkirakan mencapai 40 – 55 %, bahkan bisa mengakibatkan kegagalan panen.

Sebuah dilema yang harus dihadapi oleh para petani saat ini adalah bagaimana cara mengatasi masalah OPT tersebut dengan pestisida sintetis. Di satu sisi dengan penggunaan pestisida sintetis maka ancaman kehilangan hasil panen akibat OPT dapat ditekan, akan tetapi di sisi lain akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Sedangkan tanpa pestisida kimia, kehilangan hasil akibat akibat OPT sulit ditekan. Padahal tuntutan masyarakat dunia terhadap produk pertanian menjadi bertambah tinggi terutama masyarakat negara maju, tidak jarang hasil produk pertanian kita yang siap ekspor ditolak hanya karena tidak memenuhi syarat mutu maupun kandungan residu pestisida yang melebihi ambang toleransi.

Pestisida dan Penggunaannya

Pestisida secara luas diartikan sebagai suatu zat yang bersifat racun, menghambat pertumbuhan atau perkembangan, tingkah laku, bertelur, perkembang biakan, mempengaruhi hormon, penghambat makan, membuat mandul, sebagai pemikat, penolak dan aktivitas lainnya yang mempengaruhi OPT. Tidak kita pungkiri bahwa dengan penggunaan pestisida sintetis telah berhasil menghantarkan sektor pertanian menuju terjadinya revolusi hijau, yang ditandai dengan peningkatan hasil panen dan pendapatan petani secara signifikan, sehingga Indonesia bisa mencapai swasembada pangan pada tahun 1986. Dalam revolusi hijau target yang akan dicapai adalah berproduksi cepat dan tinggi, sehingga diperlukan teknologi masukan tinggi diataranya penggunaaan varietas unggul, pemupukan berat dengan pupuk kimia, pemberantasan hama dan penyakit dengan obat-obatan kimia. Pada tahun ini konsepsi untuk menanggulangi OPT ialah pendekatan UNILATERAL, yaitu menggunakan satu cara saja, PESTISIDA. Ketika itu pestisida sangat dipercaya sebagai ASURANSI keberhasilan produksi; tanpa pestisida produksi sulit atau tidak akan berhasil. Karena itu pestisida disubsidi sampai sekitar 80 % dari harganya, hingga petani dapat membelinya dengan harga murah. Sistem penyalurannyapun diatur sangat rapih dari pusat sampai ke daerah-daerah. Pestisida diaplikasikan menurut jadwal yang telah ditentukan, tidak memperhitungkan ada hama atau tidak. Pemikiran ketika itu ialah melindungi tanaman dari kemungkinan serangan hama. Promosi pestisida yang dilakukan oleh para pengusaha pestisida sangat gencar melalui demontrasi dan kampanye. Para petani diberi penyuluhan yang intensif, bahwa hama-hama harus diberantas dengan insektisida. Dalam perlombaan hasil intensifikasi, frekuensi penyemprotan dijadikan kriteria, makin banyak nyemprot, makin tinggi nilainya.

Dampak Penggunaan Pestisida Terhadap Lingkungan

Ternyata, puncak kejayaan pestisida sekitar tahun 1984-1985 telah membawa dampak yang sangat dahsyat terhadap ekosistem yang ada. Meskipun penggunaan pestisida makin ditingkatkan , masalah hama-hama terutama wereng tidak dapat diatasi, malah makin mengganas. Kita tidak sadar, bahwa mengganasnya hama wereng tersebut akibat penggunaan pestisida yang berlebihan.

Masalah yang Ditimbulkan karena Penggunaan Pestisida

  • Matinya makhluk bukan sasaran (ikan, ular, katak, belut, bebek, ayam, cacing tanah dan serangga penyerbuk)
  • Matinya musuh alami (predator, parasitoid),
  • Residu pestisida dalam bahan makanan,
  • pencemaran air, tanah, dan udara
  • keracunan pada manusia,
  • ongkos produksi yang sangat mahal dan sia-sia.

Pengaruh penggunaan pestisida bisa terjadi pada manusia. Gejala keracunan pada manusia yang timbul secara umum badan lemah atau lemas. Pada kulit menyebabkan iritasi seperti terbakar, keringat berlebihan, noda. Pada mata, gatal, merah berair, kabur atau tidak jelas, bola mata mengecil atau membesar. Pengaruh pestisida pada sistem pencernaan seperti rasa terbakar pada mulut dan tenggorokan, liur berlebihan, mual, muntah, sakit perut dan diare. Sedang pada sistem syaraf, seperti sakit kepala, pusing, bingung, gelisah, otot berdenyut, berjalan terhuyung-huyung, bicara tak jelas, kejang-kejang tak sadar. Pada sistem pernafasan, batuk, sakit dada dan sesak nafas, kesulitan bernafas dan nafas bersuara.

Kenyataan ini mendorong pemerintah secara bertahap mengubah kebijakan pemberantasan hama dari pendekatan UNILATERAL ke pendekatan yang KOMPREHENSIF, berdasarkan prinsip-prinsip ekologis yang dikenal dengan PENGELOLAAN HAMA TERPADU (PHT).

Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) adalah suatu cara pendekatan/falsafah pengendalian hama didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam kerangka pengelolaan agroekosistem secara keseluruhan.

Dalam rangka mendukung Pengelolaan Hama Terpadu, AgenPupuk.com menyediakan produk Pengendali Hama dan Penyakit Tanaman ramah lingkungan berupa pestisida organik, pestisida alami, dan pestisida hayati.

Related Posts

One Response

  1. 23 Juni 2014 at 09:25PHT - Konsep Pengelolaan Hama Terpadu Ramah LingkunganReply

    […] artikel sebelumnya tentang Peran Pestisida dalam Lingkungan dan Kesehatan, tentunya timbul pertanyaan, dimana letak pestisida dalam konsep PHT. Apakah Pestisida masih […]

Tinggalkan Balasan